Salam yo.

Perkenalken asma kula Galih Tri Aji, u guys can call me Galih/ Tri/ Aji but i prefer Aji ’coz my family nyeluk aku nganggo jeneng iku… Apa yang kuinginkan adalah menganggap kalian sebagai keluargaku…
Keluarga besar Indonesia… Keluarga besar dunia… :) )

Tidak ada yang istimewa perlu kau tahu soal aku karena aku bukan siapa-siapa & bukan apa-apa… ‘De kene aku cuma ingin berbagi… Berbagi cerita, berbagi keluh kesah, berbagi kemangkelan, berbagi senyum, lan berbagi apa aja pokoke yang bisa kubagi…

Opo seng tak tulis nang kene iki ojo dianggep tenanan lho (khususe formally)… U need to cheek it, u need to verify it… Jadinya mangkeh panjenengan-panjenengan bakal angsal kebenarane tentang KABEH iku…

Terakhir,,
Ngapuntenipun untuk Anda karena aku nulis dalam bahasa seng ora karu-karuan… Bukane gak mau ikut kaidah bahasa ingkang leres,, hanya aja ini adalah soal gaya yang terasa tak terlalu esensiil… Meskipun begitu, dari sini kuharap sedikit tergambarken Indonesiaku seng collorful… :D

Oya, klo kepengin ngimel-imelan, kenalan, janjian (ngjak nonton pilm horor, hahhaa), atau ngasih gawean (maklum, weteng rasa-rasane ngeleh terus),
sumonggo dipunkirim wonten alamat niki: gt_aji@yahoo.com atau galih.tri.aji@gmail.com atau galih3aji@gmail.com.

It is nice we could share, learn, and know each others… :)

Salam,
gta.

6 Responses to “Seng corat-coret”

  1. Vivi Says:

    Salam kenal galih,

    sekedar mau bertanya saja. kalau gaji pokok itu boleh atau tidak dihitung prorta bila masa kerja kurang dari 1 bulan, misalnya Cut off perhitungan gaji tanggal 15/02/10- tgl 15/03/10, kemudian karyawan baru mulai bergabung tgl 22/02/10. misal GP 2jt, apakah boleh dihitung prorata? apa dasar hukumnya?

    Terima kasih.

    1. waknoes Says:

      @Vivi: maaf bru bls, lama saya g maintain blog :-)
      Setau saya ya, kayaknya g ada dasar hukum yg spesifik terkait apa yg km tanyain (g tau klo di peraturan tingkat teknisnya). Cm mungkin ada bbrpa prinsip di UU No.13/2003 yg bisa digunakan sbg kerangka berfikir untuk mencari jawabanan atas pertanyaan km.
      Silahkan liat di Pasal 93 ayat (1), disebutkan: “Upah tidak dibayar apabila pekerja/buruh tidak melakukan pekerjaan.” Klo g salah biasanya ini dikenal dg istilah “No work no pay”.
      Klo kita liat Pasal 93 ini ia mengatur soal upah. Di ayat (2) ditentukan bahwa pekerja ttp dibayar meskipun tdk melakukan pekerjaan tapi dg alasan ttt (limitatif). Selanjutnya liat di ayat (4)nya, nah di situ ditentukan bahwa pekerja yg tdk melakukan pekerjaan tp dg alasan ttt ttp dibayarkan upahnya dg hitung2an hari.
      Dari ketentuan Pasal 93 yg saya sebutkan di atas kira2 minimal bisa diambil semangatnya, yaitu bhwa klo g bekerja ya berarti g dpt upah. Maka mis. masuk kerja tengah bulan (cm 15 hari) meskipun skema pengupahan adl bulanan ya boleh2 saja dihitung pro rata. Yg saya tau hal ini jamak terjadi dalam praktek, dan rasa2nya hal ini pun sudah cukup seimbang baik dari sisi pekerja maupun dari sisi pemberi kerja.
      Demikian, semoga sedikit memberi gambaran.

  2. Sang Si Bimbang Says:

    Mas Aji,

    ini iki aku, arek nakal sing ngakune Sang Si Bimbang. Isik ileng Mas? Sak iki uwong ora iso nulis langsung mane ndak blog-e Mas Bambang, sak iki kudhu ndaftar dhisik.

    Yo wes, nek mesti ndaftar yo ndaftar dhisik. Mas Aji ora gelem ngeset koyok ngono sisan tah? Sakjane ora perlu seh.

    Nek pingin menghapus tulisan iki: takok Mas Bambang wae.

    Salam,

    Bimbang

    +++++++++++++++++++++++++

    Hallo Pak Bambang,

    berhubung datanya hilang, saya tulis lagi deh dan saya persingkat lagi sehingga Anda yang proses tambah-tambahan saja sudah bisa puyeng, mungkin akhirnya bisa mengerti:

    1) Kesalahan perhitungan data statistik

    Anda sendiri mengakui bahwa weighting factor untuk kota-desa-negeri-swasta itu bukan satu. Angka rata-rata pengeluaran biaya SD per tahun 508.592 Rupiah atau untuk SMP: 1.127.288 Rupiah untuk tahun 2006 itu tidak mungkin bisa didapat jika weighting factor kota-desa-negeri-swasta berjumlah 1. Dari lihat data sekilas saja ini sudah jelas bagi orang yang bisa ngitung/ngerti statistik. Karena data di tabel 3 referensinya sama dengan data di tabel 2, maka Gabungan (K+D) di kedua tabel itu semuanya salah!

    Anda itu orang akademis, bahkan guru/pengajar di unversitas! Mengapa Anda masih ngotot mempertahankan nilai paruh yang dihitung dengan weighting factor yang salah sampai sekarang?

    Kalau Anda merelatifisir data, maka selain hal itu adalah langkah bunuh diri menendang bola ke gawang sendiri, jurus itu terlalu dipikir pendek: perbedaan yang dipaparkan itu tidak akan mengubah struktur angka, karena semua pengeluaran itu akan dikeluarkan oleh semua kategori: kota-desa-negeri-swasta.

    2) Linearitas antara pengeluaran keluarga dan pendapatan keluarga itu patut dipertanyakan validitasnya.

    Kita bikin saja studi kasus mini: ada dua keluarga yang berpenghasilan sama (umpamanya kerja di lembaga/perusahaan sama dengan pangkat sama dan tugas sama di kota yang sama), namun jumlah keluarganya tidak sama (umpamanya jumlah anak berbeda).

    Apakah pengeluaran kedua keluarga itu kira-kira sama?

    Setelah menjawab pertanyaan itu, silahkan uji sendiri apakah linearitas antara besarnya pengeluaran keluarga dan tingginya pendapatan keluarga itu valid?

    Jika basis/asumsi salah, maka kesimpulan akan salah juga.

    Nah, menghitung, ngetik/nulis, data yang salah itu buang-buang waktu dan tidak produktif (kecuali produksi kesalahan). Berhari-hari tetap ngotot mempertahankan data yang salah itu, ya memang tepat untuk dibilang buang-buang waktu.

    Banyak kesalahan yang sengaja saya sisipin di tulisan saya dari pertama. Tiap kali kesalahan itu lolos begitu saja. Anda tidak lulus tes kekritisan dan kemampuan matematika Anda rupanya memang tidak solid. Bisa pakai Excel saja kalau rumusnya salah, ya cuma produksi kesalahan saja.

    Salam,

    Bimbang

    1. waknoes Says:

      wahhh… pak “Sang Si Bimbang” ud comment di sini sjk tgl 26 to, cpt sekali. rajin bgt ublek-ublek internet ya?

      sayang, saya g terlalu fasih berinternet ria. ng-blog aja jg g fasih. tp entah gmana koq blog saya ini ke-set moderated. saya sendiri jg g paham. jadi g perlu ng-delete deh.

      krn g fasih saya jd g bs ngelacak “pak Sang Si Bimbang”, tp klo pun dilacak pasti semua id jg g ada kan ya? yowes, pdhl saya pengen kenalan lho. tapi klo ini adlh pilihan ya harus dihormati. btw, pak “Sang Si Bimbang” arek Sby yg lg ngangsu kawruh di tempat laernya Hegel ya? atau justru mengajar di sna (TUB)? tinggal kontak temen2 KBRI aja nih… :d

      anyway, sebenarnya saya jg baru td pagi liat blog-nya pak Bambang (dan sekarang harus log dulu. tapi ttp masih bisa comment sih). yg jelas ternyata sdh rame. bpk2 sdh saling berbalas sapa. saya ucapkan terima kasih. saya belajar bnyk hal.

      oya, mohon maaf, untuk comment yg satunya lg dg berat hati saya tdk bisa meng-approve-nya. sebenarnya bnyk yg saya pelajari dari 2 comment pak “Sang Si Bimbang”, tapi krn di comment yg g saya approve ada sedikit bagian (terutama link & to the point-nya) yg rasa2nya agk gimana gitu… mohon maaf.

      kebetulan saya bljr hukum, jd ya sebisa mungkin saya menjauhi hal-hal yg memicu konflik meski konflik itu adlh tempat saya kelak mencari rejeki (hahaaa). apalagi ini di dunia maya, database-nya niscaya g akan pernah hilang slma blm dihapus server. takut saya. :) tapi saya sudah menangkap maksud baik pak “Sang Si Bimbang” koq… dan (sekali lg) saya ucapkan trma kasih.

      meski saya g paham ttg weight factor dsb (khususnya statistik) tapi saya sedikit paham ttg konsep ekonomi. mmm…masuk akal apa yg pak “Sang Si Bimbang” uraikan. khususnya bahwa pengeluaran tdk linier dg pendapatan (bnyk faktor yg harus dipenuhi untuk bisa menjadikannya linier).

      klo pake bahasa ekonomi, Harta = Utang + Modal. jd klo mau lbh valid (dan detail), selain itung jml anak/keluarga, dihitung jg utangnya. ini kayaknya mirip2 dg konsep PDB deh. suatu simplifikasi untuk bisa melakukan kira-kira dlm memahami sesuatu. (kata teman saya yg kerja di kantor akuntan sih spt itu). ya memang ada asumsi dan tentu perlu dibuat disclaimer.

      salam,
      gta.

  3. Sang Si Bimbang Says:

    Hallo Mas Aji,

    terakhir-akhir ini aku sibuk: nulis proposal projek sosial dan lagi sibuk di laboratorium. Kerjaanku bukan jadi staf pengajar (ya dulu pernah juga ngurus praktikum mahasiswa, dan juga membimbing mahasiswa nulis skpripsi, pertukaran mahasiswa master program (biasanya ini dari luar negeri) atau ya ngajarin PhD student di masa awal, jika temanya sesuai. Namun titik berat pekerjaan adalah riset. Selasa depan ada meeting di institut partner, Agustus nanti ada minisymposium di ETH Zurich (Switzerland), di mana pesertanya dari universitas/institut riset dari 3 negara. Enaknya kerja di bidang ilmu alam itu: ndak ngeyel. Evidence based, tidak pakai ngotot-ngototan, apalagi kalau sudah ketahuan salah. Agustus nanti aku akan terbang sendirian ke Zurich, karena profesorku ke Chicago. Namun ya kerja di bidang sains enaknya ya gitu: kalaupun ada perbedaan pendapat atau beda hasil, kita uji lagi mana yang benar. Jadi meskipun dari awal aku tahu bahwa yang aku presentasikan itu berlawanan dengan hasil grup riset lain dan “lawan” bicaranya profesor dari mancanegara, ya ndak perlu gemetar. Tinggal adu argumen dan cari/tunjukin bukti.

    Bahwa Pak Bambang kompetensi matematikanya tidak terlalu mantap, aku kira ini bisa ditarik dari cv Pak Bambang. Aku kira dia stochiometri tidak benar-benar menguasai. Kalau dia menguasai, dia tidak akan membuat kesalahan statistik di tulisannya itu. Aku coba jelaskan lagi aspek ini dengan dua ilustrasi lengkap dengan akibatnya:

    1) Kita ambil contoh SD swasta di kota dan di desa.
    Jumlah SD/SMP swasta di kota tentu lebih banyak dibanding di desa. Anggap saja ada 2 di kota dan 1 di desa. Nilai rata-rata SD swasta kota di tabel 2: Rp. 564.845, ini kita bulatan menjadi 600.000; untuk yang desa: Rp. 155.738, kita bulatkan menjadi 200.000
    Data mentahnya bisa begini: SD swasta kota I: 550.000, SD swasta kota II: 650.000, SD swast desa: 200.000.
    Nilai rata-rata dari keseluruhan SD swasta kota dan desa adalah: (550.000+600.000+200.000)/3 = 466.667

    Di tabel 2 hanya dicantumkan nilai rata-rata SD swasta kota: (550.000+650.000)/2 = 600.000 dan untuk SD swasta desa: 200.000/1=200.000
    Nah, Pak Bambang hanya memaruh dua nilai rata-rata tersebut: (600.000+200.000)/2 = 400.000

    Itu salah karena weighting tidaklah satu untuk kedua data itu, melainkan: untuk data SD swasta kota weighting factornya: 2 dan untuk SD swasta desa: 1. Rumus/perhitungan yang benar adalah: (2*600.000+1*200.000)/(2+1)=1.400.000/3=466.667

    2) Kasus cincin emas
    Berat jenis air: 1g/mL
    Berat jenis plastik PVC: 1,4 g/mL
    Berat jenis gabus styropor: 0,04 g/mL
    Karena berat jenis PVC lebih besar/berat daripada air, maka lempingan PVC akan tenggelam di air. Lempingan gabus styropor akan mengambang di air.

    Kita buat lempingan PVC dan gabus styropor dengan ukuran sama semau 20x20x1cm agar di perhitungan berikut ini kita tidak perlu repot mikirin faktor volume di rumus.

    Jika kita ikat lem 1 lempingan styropor dan 1 lempingan gabus, maka berat jenisnya untuk kasus 1:1 adalah (1,4 + 0,04)/2=0,74 g/mL. Barang itu akan mengambang di air (1g/mL). Kalau kita letakkan cincin emas di atasnya: tidak akan tenggelam

    Nah, kalau kasusnya 3 PVC plus 1 gabus, maka berat jenisnya akan menjadi: (4×1,4 + 0,04)/(4+1) = 5,64/5 = 1,128 g/mL. Karena berat jenisnya lebih besar/berat dari air, maka benda itu akan tenggelam. Mulai perbandingan 3:1 akan tenggelam.

    Nah, tabel Pak Bambang itu begini: rata-rata PVC =(4×1,4)/4=1,4 dan rata-rata gabus syropor=1×0,04/1=0,04 dan dia pakai rumus nilai paruh tanpa weighting factor yang benar, maka di tabel Pak Bambang akan tertera: nilai rata-rata =(1,4+0,04)/2=0,72 g/mL.
    Kalau sampeyan percaya nilai hitungan Pak Bambang dan nekat naruh cincin di atasnya, maka jangan heran kalau cincin emas itu mendelep di air. Perhitungan Pak Bambang itu salah untuk semua kasus di mana ada data yang weighting factor-nya tidak 1.

    Memang tidak semua orang itu mendalami matematika atau statistik. Namun Pak Bambang itu pensyarah yang mengajar metodologi riset dan berkecimpung di bidang pendidikan sains. Jika mengumbar jago pakai Excel jika rumusnya salah, ya cuma jago produksi kesalahan Ini kalau diterus-teruskan satu saat bisa berakibat fatal bagi banyak pihak.

    Mengenai aspek hukum: informasi/data itu aku dapat legal, tinggal google nama saja dah ketemu. Apalagi keterangan di blog itu ada keterangan lengkap sampai nama sekolah asal segala. Dan justru karena itu aku berusaha mengingatkan Pak Bambang: kalau kesalahan menjadi publik, maka bukan saja pekerjaan, namun sebaikknya juga semua pihak terkait dipikiran – dari orang tua sampai negara/bangsa Indonesia – mohon dipikirkan.

    Data Uni Sosial Demokrat yang aku pakai sebagai sumber alternatif untuk menguji data Pak Bambang itu tinggal google saja. Data Mas Aji itu kalau saya mau, bisa dicari di friendster atau facebook, dan untuk itu tidak mesti memakai/bikin account sendiri. Bisa, sih bisa, cuma tidak dilakukan karena tidak ada kepentingan.

    Punya teman banyak, itu enak,cuman kalau lagi pulang mudik, repot bagi waktunya. Aku ini tergolong ceplas-ceplos dalam memberikan pendapat, mungkin pengaruh dari kerja di bidang riset: cenderung memilih istilah yang tepat dan tidak memusingkan nilai rasa yang ada dibaliknya, selain ya memang hampir separuh hidup di Eropa, jadi ya kadang bukan saja tidak kenal nilai ancang-ancang & bahasa Indonesia, di beberapa hal bisa sampai tidak mengerti. Kengototan Pak Bambang itu umpamanya aku ndak bisa mengerti. Dia sadar salah dan bahkan aku tunjukkan aspek yang pada akhirnya untuk kepentingan dirinya sendiri, kok tetap saja ngotot mempertahankan kesalahan?

    Bulan depan Jakarta aku cuma kunjungi sehari sebelum balik ke tempat kerja lagi. Namun kalau kamu berhasil mengkontak aku langsung dan ngasih nomor handphone kamu, kita bisa ketemu di Jakarta sekitar akhir Juli, kalau kamu ndak keberatan untuk kumpul rame-rame. Yok opo caramu: karep-karepmu. Surabaya sih sudah tebakan yang tidak jelek. Itu tempat belajar bahasa. Sekolah tidak di sana, kota asal juga lain lagi. Kalau stasiun hidup menclak-menclok, yang ingin disambangi ada di banyak tempat berbeda. Pernah ada teman dari TK yang khusus datang dari Bandung ke Soekarno-Hatta untuk ketemu sebentar saja (tidak sampai setengah jam). Tahun ini ada yang mengubah jadwal perjalanan ke luar negeri karena ingin ketemu. Bahwa aku jarang mudik, itu memang benar, cuma beberapa teman kok sampai bersedia capek/ngubah jadwal untuk bisa ketemuan, terus terang, aku dhewe heran. Relasi iku cocok-cocokan dan jika kenal, orang akan tahu sendiri serta bisa masuk ke level di mana kita tidak hanya berkutat di keramahan permukaan saja.

    Salam,

    Sang Si Bimbang

  4. Sang Si Bimbang Says:

    Barusan ada data salah ketik gara-gara copy & paste dari sumber angka yang salah: “Nilai rata-rata dari keseluruhan SD swasta kota dan desa adalah: (550.000+600.000+200.000)/3 = 466.667″

    Yang benar adalah: (550.000+650.000+200.000)/3 = 466.667

Comments are closed.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.