Program RSBI beresiko tinggi
Unmuh Magelang, 4 September 2010
MAGELANG – Menjamurnya program pendidikan ala RSBI/SBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional) dalam lima tahun terakhir, mengalami perkembangan relatif signifikan. Kendatipun secara hakiki, tujuannya masih patut dipertanyakan. ”Program ini merupakan eksperimen berisiko tinggi karena belum pernah diteliti dan dikaji secara mendalam dampaknya, tapi sudah diterapkan di ratusan sekolah,” kata Drs Suliswiyadi MAg, Ketua LP3M (Lembaga Penelitian Pengembangan dan Pengabdian pada Masyarakat) Universitas Muhammadiyah Magelang (UMM), kemarin.
Dalam orasi ilmiahnya, dia mengatakan, harapan pemerintah menggalakkan program RSBI/SBI adalah terwujudnya kualitas pendidikan. Khususnya untuk tingkat satuan pendidikan dan selaras dengan prinsip-prinsip komersialisasi, kapitalisasi dunia pendidikan.
Implikasinya, menurut dia, untuk ajang mencari gengsi. ”Yang tak kalah penting, pemerintah hendak mengusung satu pola Pendidikan Berwawasan Global,” katanya, dalam orasi ilmiah ”Reaktualisasi Pendidikan Karakter dalam Membangun Peradaban Bangsa”.
Fenomena umum dari RSBI, menurut dia, mewah dan mahal dengan fasilitas yang sangat memadai, komersial, serba berbahasa Inggris dan serba kapital. Faktanya, RSBI hanya bisa diakses oleh siswa-siswa dari golongan menengah ke atas.
”Tidak salah pula, jika ada anggapan, RSBI secara sistemik menimbulkan kastanisasi sosial,” kata Sulistiyadi, dalam acara Milad ke-46 UMM di Aula Kampus I yang dibuka Rektor UMM Prof Dr Achmadi. Karena itu, kata dia, implementasi program RSBI/SBI menuai kritik tajam. Antara lain, konsepnya lemah, tak memiliki bentuk dan arah yang jelas. Apa yang akan diperkuat, diperkaya, dikembangkan dan diperdalam.
Dia mengatakan, penekanan penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar oleh guru yang tidak berkompeten dalam penguasaan materi dan pedagogi, membuat proses kegiatan belajar mengajar (KBM) kacau balau.
”Berharap target tinggi dari guru yang tidak kompeten merupakan kesalahan sangat fatal. Risiko kegagalannya sangat besar untuk ditanggung. Program SBI bakal menghancurkan best practise dalam proses KBM yang selama ini telah dimiliki sekolah-sekolah mandiri yang dianggap telah mencapai standar nasional pendidikan,” tandasnya. TB-skh