Inilah fitrah manusia dengan kemanusiaannya.
Juga inilah fitrah bangsa kita.
Untuk
berbeda pendapat. berbeda persepsi. berbeda maksud. berbeda rasa.
berbeda pemaknaan. berbeda penghargaan. berbeda penghormatan.
Yang semua itu telah membuat kita menjadi, berbhineka!

Soal beda-beda dalam berkomunikasi,
ada relung pribadi yang itu belum tentu dipahami diri.
Ada pula ruang antar pribadi yang tentu lebih sulit dimengerti apalagi
untuk dipahami.

Pribadi diri punya kebebasan
pribadi lain juga punya kebebasan.
Dialog antar kebebasan dalam nuansa kerukunan
dengan toleransi, tepa selira, saling menghormati dan berempati
itulah harmoni.

Yang ingin dikata hanya dimana toleransi dengan tepa selira, saling menghormati
dan sikap berempati.
Sebuah tuntutan atas apa yg dirasa, dihargai, dihormati, dan dimaknai
pribadi dan pribadi lain yang sepribadi
oleh pribadi lain yang tidak sepribadi.

Bahwa dalam per(beda)an memang (dan mungkin) tidak ada konflik
namun dalam per(beda)an jelas ada beda, juga selisih
dimana di situ terletak potensi terjadi konflik.

Semoga diri ini bisa berlapang dada dan berhati-hati.
Semoga nuansa fitri mengingatkan kembali pribadi diri
akan niat baik DAN kebijaksanaan hati
demi merealisasi, tunggal ika negeri!

Salatiga, 120910

Advertisement