Bahasa Indonesia Semakin Terpinggirkan di RSBI
SurabayaPostOnline, 3 Agustus 2010
Prestisa Gifta Axelia merasa dirinya makin termotivasi menguasai Bahasa Inggris ketika bersekolah di RSBI SMAN 5. Saat berbincang dengan Surabaya Post belum lama ini, dia menyatakan kebanggaannya kini lebih fasih berbahasa Inggris.
Di sekolah bertaraf internasional, kefasihan berbahasa Inggris memang jadi modal utama dalam tutorial. Karenanya setiap siswa dituntut untuk menguasainya.
Di sisi lain, kondisi ini memunculkan kekhawatiran Bahasa Indonesia akan makin tak dihargai oleh masyarakat. Di dunia pendidikan, sekolah internasional bahkan menafikan keberadaan Bahasa Indonesia sebagai syarat masuk ke Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI). Contohnya sangat jelas ketika Surabaya menggelar Penerimaan Siswa Baru (PSB) RSBI tahun ini, Bahasa Inggris adalah salah satu mata pelajaran yang dipersyaratkan. Bobot nilainya mencapai 15%, sementara Bahasa Indonesia tak masuk pertimbangan.
Yani Paryono dari Balai Bahasa Surabaya mengatakan, di Jepang sekolah-sekolah yang bertaraf internasional tetap menggunakan Bahasa Jepang sebagai bahasa pengantar. Namun begitu kurikulumnya mengikuti standar internasional, sehingga lulusannya bisa diterima di dunia internasional.
Menurutnya, ada hal yang salah dengan program Kemendiknas tentang RSBI. Ketika Bahasa Inggris dikedepankan dalam dunia pendidikan, secara tidak langsung hal tersebut telah merendahkan Bahasa Indonesia itu sendiri. “Jadi memang ada yang salah kaprah, jika RSBI maka pengajarannya juga harus berbahasa Inggris. Ini keliru berat,” ujarnya Senin (2/8).
Pemerintah sendiri sekarang tengah melakukan pembahasan rancangan peraturan pemerintah terkait UU 24/2009 tentang Bendera, Bahasa dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan yang menyebut Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi yang harus digunakan di seluruh sektor kehidupan termasuk di dunia pendidikan. Dengan demikian, tutorial di RSBI juga harus menggunakan bahasa Indonesia.
Yani yang juga Ketua I Himpunan Pembina Bacaan Bahasa Indonesia mengatakan, evaluasi RSBI juga menyangkut soal kebahasaan di sekolah. Dia mengatakan pemerintah kini juga sudah mulai menyusun agar Bahasa Indonesia secara tersistematis bisa jadi bahasa internasional.
Sementara Luita Aribowo dari Departemen Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Airlangga menuturkan, Bahasa Indonesia masih akan bertahan menjadi bahasa pemersatu bangsa. Namun begitu, jika tak ada langkah-langkah strategis mempertahankan kelestariannya, bisa jadi Bahasa Indonesia hanya akan jadi bahasa kelas kedua. “Kalau tetap tak ada langkah strategis, saya kira 10-15 tahun yang akan datang, Bahasa Indonesia akan jadi bahasa kelas kedua,” katanya.
Luita melontarkan pernyataan ini setelah dirinya melihat makin rendahnya kemampuan siswa dalam berbahasa Indonesia. Salah satu indikatornya adalah hasil Ujian Nasional, mata pelajaran Bahasa Indonesia yang jeblok. Selain itu, orangtua lebih bangga jika anak-anaknya fasih berbahasa Inggris.
Padahal dari kajian linguistik, Bahasa Indonesia lebih rumit dari Bahasa Inggris karena hingga kini masih berkembang dengan adanya serapan dari bahasa Inggris ataupun bahasa daerah. Karenanya, dia mengusulkan agar ada mekanisme yang menguntungkan supaya Bahasa Indonesia bisa terus dikembangkan di sekolah-sekolah.
Kepala Dinas Pendidikan Surabaya, Sahudi, menilai ketakutan bahwa Bahasa Indonesia menjadi terpinggirkan di negeri sendiri adalah opini yang kurang tepat. Dia mengatakan manusia memiliki kemampuan untuk menguasai banyak bahasa. “Jadi pemikiran seperti itu saya kira kurang tepat,” tegasnya. sit
Sumber: diakses 6 Agustus 2010
